Usaha yang berpindah tempat
Tenant Baru di Food Court
Menyewa lapak di food court berarti biaya tetap yang berjalan sejak hari pertama. Yang paling menentukan bukan ramai atau sepi, melainkan apakah yang masuk menutup sewa.
Sehari di usaha ini
- Katalog menu diisi sekali, lengkap dengan harga modal tiap porsi.
- Tiap penjualan masuk lewat kasir; struk dicetak bila pembeli meminta.
- Sewa lapak, gas, dan belanja bahan dicatat sebagai pengeluaran.
- Tutup jam operasional, Rekap Harian menghitung kas hari itu.
- Akhir bulan, Laba Rugi menjawab pertanyaannya: sewa tertutup atau belum.
Yang sering jadi masalah
Ramai terasa untung, padahal belum tentu.
Harga modal tiap menu dibekukan saat terjual, jadi Laba Rugi memperlihatkan laba kotor yang sebenarnya — bukan sekadar jumlah uang masuk.
Sewa dan bahan tercampur dengan uang pribadi.
Pengeluaran dicatat berkategori, dan ikut dikurangkan di Laba Rugi bulan itu.
Pengelola food court minta rekap penjualan.
Ekspor CSV, buka di Excel atau Google Sheets, kirim.
Yang dipakai
- Struk 58mm untuk printer saku
- Rekap Harian untuk tutup kas
- Laba Rugi bulanan, lengkap dengan HPP
- Stok per produk beserta kartu mutasinya
- Ekspor CSV untuk Excel atau Google Sheets
- QRIS toko ditampilkan besar di kasir
Paket yang cocok
Gratis
Mulai dari paket gratis selagi menguji apakah lapaknya layak. Naik satu tingkat saat menunya bertambah melewati batas katalog gratis.
Yang tidak kami lakukan
Tidak ada sambungan ke sistem kasir pengelola mal, dan tidak ada perhitungan bagi hasil sewa otomatis. Angka sewanya Anda catat sendiri sebagai pengeluaran.